BMKG: Gempa M3,6 Guncang Kolaka dan Kolaka Timur, Dipicu Aktivitas Sesar Aktif
BMKG menyatakan gempa tektonik magnitudo 3,6 yang mengguncang Kolaka dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, pada Senin dini hari terjadi akibat aktivitas sesar aktif. Hingga pemantauan pukul 05.00 WITA, BMKG belum mencatat gempa susulan dan belum ada laporan kerusakan.
Danova
2 min read
Kembali ke daftar artikel
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi yang dirasakan terjadi pada Senin, 12 Januari 2026 pukul 00.44.25 WIB atau 01.44.25 WITA. Berdasarkan informasi BMKG, gempa ini berkekuatan magnitudo 3,6 dengan kedalaman 5 kilometer, dan titik koordinat 4,06 LS dan 121,76 BT. Pusat gempa berada di darat sekitar 18 kilometer timur Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Walaupun magnitudonya tergolong menengah-kecil, karakteristik gempa yang dangkal membuat guncangan lebih mudah terasa oleh masyarakat di sekitar sumber. BMKG melaporkan gempa ini dirasakan pada skala III–IV MMI di Kolaka Timur dan Kolaka. Dalam rilis yang sama, BMKG memberi arahan agar informasi ini diteruskan kepada masyarakat serta menyampaikan imbauan untuk berhati-hati terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi.
Skala intensitas MMI (Modified Mercalli Intensity) berbeda dengan magnitudo. Magnitudo mengukur energi gempa, sedangkan MMI menggambarkan seberapa kuat guncangan yang dirasakan dan dampaknya di permukaan. Untuk gambaran, BMKG menjelaskan bahwa III MMI umumnya berarti getaran terasa nyata di dalam rumah, sering dianalogikan seperti ada kendaraan berat melintas. Sementara IV MMI dapat dirasakan oleh lebih banyak orang di dalam rumah dan sebagian di luar ruangan, kadang disertai pintu atau jendela berderik, serta benda rapuh bisa terdampak.
BMKG juga mengingatkan secara umum bahwa parameter gempa pada menit-menit awal dapat berubah setelah analisis lanjutan dilakukan oleh seismolog. Karena itu, masyarakat disarankan merujuk pembaruan resmi BMKG jika ada pemutakhiran magnitudo, kedalaman, atau lokasi.
Dari sisi konteks kerawanan, wilayah Kolaka dan Kolaka Timur memang beberapa kali dilaporkan mengalami gempa dangkal yang dikaitkan dengan aktivitas sesar aktif. Dalam pemberitaan sebelumnya, BMKG Kendari menyebut gempa dangkal di Kolaka Timur dapat dipicu aktivitas sesar aktif di sekitar wilayah tersebut. Catatan ini memperkuat alasan mengapa BMKG kerap menekankan kewaspadaan susulan, terutama ketika gempa terjadi pada kedalaman sangat dangkal.
Pasca guncangan, langkah praktis yang biasanya dianjurkan dalam situasi seperti ini adalah memastikan kondisi rumah atau bangunan tetap aman sebelum kembali beraktivitas normal, terutama memeriksa retak baru pada dinding, plafon, atau sambungan bangunan. Jika terjadi guncangan susulan, masyarakat dianjurkan segera mengambil posisi aman, menjauh dari benda yang mudah jatuh, dan mengikuti informasi resmi agar tidak terjebak kabar simpang siur. BMKG sendiri secara eksplisit menekankan kehati-hatian terhadap kemungkinan gempa susulan.
Walaupun magnitudonya tergolong menengah-kecil, karakteristik gempa yang dangkal membuat guncangan lebih mudah terasa oleh masyarakat di sekitar sumber. BMKG melaporkan gempa ini dirasakan pada skala III–IV MMI di Kolaka Timur dan Kolaka. Dalam rilis yang sama, BMKG memberi arahan agar informasi ini diteruskan kepada masyarakat serta menyampaikan imbauan untuk berhati-hati terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi.
Skala intensitas MMI (Modified Mercalli Intensity) berbeda dengan magnitudo. Magnitudo mengukur energi gempa, sedangkan MMI menggambarkan seberapa kuat guncangan yang dirasakan dan dampaknya di permukaan. Untuk gambaran, BMKG menjelaskan bahwa III MMI umumnya berarti getaran terasa nyata di dalam rumah, sering dianalogikan seperti ada kendaraan berat melintas. Sementara IV MMI dapat dirasakan oleh lebih banyak orang di dalam rumah dan sebagian di luar ruangan, kadang disertai pintu atau jendela berderik, serta benda rapuh bisa terdampak.
BMKG juga mengingatkan secara umum bahwa parameter gempa pada menit-menit awal dapat berubah setelah analisis lanjutan dilakukan oleh seismolog. Karena itu, masyarakat disarankan merujuk pembaruan resmi BMKG jika ada pemutakhiran magnitudo, kedalaman, atau lokasi.
Dari sisi konteks kerawanan, wilayah Kolaka dan Kolaka Timur memang beberapa kali dilaporkan mengalami gempa dangkal yang dikaitkan dengan aktivitas sesar aktif. Dalam pemberitaan sebelumnya, BMKG Kendari menyebut gempa dangkal di Kolaka Timur dapat dipicu aktivitas sesar aktif di sekitar wilayah tersebut. Catatan ini memperkuat alasan mengapa BMKG kerap menekankan kewaspadaan susulan, terutama ketika gempa terjadi pada kedalaman sangat dangkal.
Pasca guncangan, langkah praktis yang biasanya dianjurkan dalam situasi seperti ini adalah memastikan kondisi rumah atau bangunan tetap aman sebelum kembali beraktivitas normal, terutama memeriksa retak baru pada dinding, plafon, atau sambungan bangunan. Jika terjadi guncangan susulan, masyarakat dianjurkan segera mengambil posisi aman, menjauh dari benda yang mudah jatuh, dan mengikuti informasi resmi agar tidak terjebak kabar simpang siur. BMKG sendiri secara eksplisit menekankan kehati-hatian terhadap kemungkinan gempa susulan.
Bagikan artikel ini:
Artikel Terkait
Baca juga artikel lainnya yang mungkin Anda suka
Nasional
Indonesia Resmi Terpilih Sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB...
•
42 views
•
3 min