IHSG Sempat Anjlok 2,3% di Sesi II, Tekanan Jual Meluas
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan tajam pada perdagangan Senin, 12 Januari 2026. Pada sesi kedua, IHSG sempat jatuh sekitar 2,3% ke area 8.7 ribu sebelum memangkas pelemahan menjelang penutupan, di tengah aksi ambil untung dan tekanan pada sejumlah saham berisiko tinggi.
Danova
2 min read
Kembali ke daftar artikel
Jakarta, 12 Januari 2026. Pergerakan IHSG berbalik tajam pada sesi kedua perdagangan hari ini setelah sempat mencetak penguatan di sesi pertama. Pada pukul 14.33 WIB, IHSG dilaporkan sempat turun 211,58 poin atau 2,37% ke level 8.725,17. Tekanan jual terjadi serentak dan meluas di banyak saham, memicu kondisi yang oleh sejumlah pelaku pasar disebut sebagai “flash crash” intraday.
Sejalan dengan itu, data RTI yang dikutip media menunjukkan rentang pergerakan harian yang ekstrem. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 9.000,96 dan level terendah 8.715,41 pada sesi kedua. Ini menggambarkan perubahan sentimen yang sangat cepat, dari reli menuju area psikologis 9.000 ke aksi jual yang mendadak dan massif.
Menjelang akhir perdagangan, pelemahan sempat menyempit. Pada pukul 15.11 WIB, IHSG tercatat turun 0,55% ke posisi 8.887, sementara indeks LQ45 turun tipis 0,01% ke 867. Di saat yang sama, jumlah saham melemah tercatat lebih banyak dibanding yang menguat, menandakan tekanan masih dominan meski indeks mulai rebound dari titik terendah intraday.
Dari sisi penyebab, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai tekanan salah satunya datang dari saham sektor energi yang melemah sekitar 2%, dipicu aksi ambil untung setelah penguatan signifikan pada beberapa emiten energi. Pengamat pasar modal Reydi Octa juga menyebut pelemahan sekitar 2% dipicu profit taking yang agresif setelah IHSG menyentuh level psikologis 9.000, sehingga pasar membutuhkan katalis yang lebih kuat agar mampu bertahan di atas level tersebut.
Tekanan juga terasa pada saham-saham berisiko tinggi. Dalam catatan yang sama, disebutkan koreksi tajam terjadi pada saham seperti BUMI dan DEWA, yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen. Dalam kronologi “flash crash” intraday, BUMI turut disebut sempat turun cepat mendekati batas auto rejection bawah sebelum kembali memantul.
Aktivitas perdagangan hari ini juga berlangsung sangat ramai. Pada sesi kedua, nilai transaksi harian dilaporkan mencapai sekitar Rp34,4 triliun dengan volume 65 miliar saham, sementara laporan lain mencatat nilai transaksi sekitar Rp27,71 triliun pada periode terjadinya tekanan intraday. Perbedaan angka ini bisa muncul karena perbedaan waktu pencatatan, namun keduanya menegaskan bahwa pergerakan tajam terjadi di tengah likuiditas yang besar.
Sejalan dengan itu, data RTI yang dikutip media menunjukkan rentang pergerakan harian yang ekstrem. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 9.000,96 dan level terendah 8.715,41 pada sesi kedua. Ini menggambarkan perubahan sentimen yang sangat cepat, dari reli menuju area psikologis 9.000 ke aksi jual yang mendadak dan massif.
Menjelang akhir perdagangan, pelemahan sempat menyempit. Pada pukul 15.11 WIB, IHSG tercatat turun 0,55% ke posisi 8.887, sementara indeks LQ45 turun tipis 0,01% ke 867. Di saat yang sama, jumlah saham melemah tercatat lebih banyak dibanding yang menguat, menandakan tekanan masih dominan meski indeks mulai rebound dari titik terendah intraday.
Dari sisi penyebab, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai tekanan salah satunya datang dari saham sektor energi yang melemah sekitar 2%, dipicu aksi ambil untung setelah penguatan signifikan pada beberapa emiten energi. Pengamat pasar modal Reydi Octa juga menyebut pelemahan sekitar 2% dipicu profit taking yang agresif setelah IHSG menyentuh level psikologis 9.000, sehingga pasar membutuhkan katalis yang lebih kuat agar mampu bertahan di atas level tersebut.
Tekanan juga terasa pada saham-saham berisiko tinggi. Dalam catatan yang sama, disebutkan koreksi tajam terjadi pada saham seperti BUMI dan DEWA, yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen. Dalam kronologi “flash crash” intraday, BUMI turut disebut sempat turun cepat mendekati batas auto rejection bawah sebelum kembali memantul.
Aktivitas perdagangan hari ini juga berlangsung sangat ramai. Pada sesi kedua, nilai transaksi harian dilaporkan mencapai sekitar Rp34,4 triliun dengan volume 65 miliar saham, sementara laporan lain mencatat nilai transaksi sekitar Rp27,71 triliun pada periode terjadinya tekanan intraday. Perbedaan angka ini bisa muncul karena perbedaan waktu pencatatan, namun keduanya menegaskan bahwa pergerakan tajam terjadi di tengah likuiditas yang besar.
Bagikan artikel ini:
Artikel Terkait
Baca juga artikel lainnya yang mungkin Anda suka
Ekonomi
Menkeu Purbaya Tekankan Pemberantasan Saham Gorengan Sebelum Demutuali...
•
21 views
•
2 min
Ekonomi
Menkeu Purbaya Tekankan Pemberantasan “Saham Gorengan” Sebelum Demutua...
•
16 views
•
2 min